Thursday, September 26, 2019

Panjang Umur Perjuangan (Catatan Harian Aksi Mahasiswa di Depan Gedung DPR RI)

Cerita Dipa(24/09/2019)



Lorong kampus terlihat sepi. Beberapa mahasiswa mengisi sudut. Kampus ini ga seperti biasanya. 

Mata kuliah pertama dan kedua diampu oleh dosen yang sama. Hanya beberapa yang hadir dalam kelas. Cowoknya cuma gue. Namun seiring berjalannya waktu mahasiswa yang lain juga masuk. Di awal waktu mata kuliah kedua, mereka mengajukan izin ke dosen untuk mengikuti aksi yang ada. Di saat yang bersamaan, terbesit dalam hati buat ikut juga. Tapi gue memperkirakan dulu situasi yang ada. 

Kemungkinan pertama motor tinggal di stasiun. Kemungkinan kedua motor tinggal di kampus. Kemungkinan ketiga motor gue bawa aja sekalian. Tapi yang terakhir sepertinya bakal merepotkan. Karena di sana pasti macet. Kalau mikir kemungkinan rusuh, udah pasti. 

Di sela-sela menunggu waktu untuk ke mata kuliah berikutnya, akhirnya gue menetapkan sebuah keputusan. Gue ikut aksi. Mungkin kaya begini cuma sekali dalam seumur hidup. Kalau ngojek bisa besok-besok lagi. 

Aksi yang gue ikuti adalah aksi menolak RUU KUHP dan RUU KPK yang banyak pasal-pasal nyeleneh. 

Basement gedung B kampus dipenuhi orang-orang yang memakai baju hitam. Sekilas gue melirik diri sendiri. Yah baju gue biru dong. Kata gue dalam hati. Tapi gapapa. Ga terlalu berpengaruh kan. Gue dan beberapa teman yang lain naik angkot menuju stasiun Tanah Tinggi Tangerang. Di sana juga lebih banyak yang sudah menunggu. Perwakilan teman gue membeli tiket pergi-pulang untuk yang lain biar ga ribet. Ga butuh waktu lama untuk menunggu kereta tiba. Dari sana, kita transit dulu di stasiun Duri lalu stasiun Tanah Abang. Barulah sampai di stasiun Palmerah. Sekalinya dalam hidup gue merasakan suasana dalam stasiun di sana kaya gimana. Biasanya gue cuma lewat di jalan luarnya buat jemput penumpang atau memang sekedar lewat. 

Kita dibiarkan istirahat untuk beberapa saat. Kesempatan itu gue gunakan untuk membeli jajan. Di seberang mata terlihat lapak roti yang terdaftar dalam dompet digital yang gue punya. Beruntung sekali. Karena uang tunai gue sudah makin menipis. Aroma kopi dari roti tersebut menusuk di hidung. Sebuah ciri khas yang tak terlupakan dari gue kecil. Ga berisi sih rotinya. Cuma lumayan lah buat mengganjal perut yang mudah lapar ini. 

"Sejak dulu ka...la. Tetap dipuja-puja bangsa"

"Padamu negeri. Kami berjanji.." Para gerombolan mahasiswa yang lewat sahut-menyahut mendendangkan lagu. Sekitar sepuluh menit kemudian kita jalan lagi.

Terik mentari menyambut kehadiran kita. Panasnya menembus jaket ojek online yang gue pake. Untungnya gue bawa helm sekalian. Aspal jalanan terasa terbakar. Namun keadaan tersebut malah membuat kita semakin semangat. Gue merasa paling ganteng sendiri karena pake atribut ojek online buat aksi mahasiswa. Hahaha. Di perjalanan kita juga sambil bernyanyi.

 Saat di tengah jalan, ada mobil lewat yang dicegat oleh mahasiswa. Awalnya gue ga mengerti kenapa.

"Lo tuh digaji pake duit rakyat!"

"Mobil ini dibeli pake duit rakyat!" Gue langsung ngeh kan. Bahwa yang mengendari mobil tersebut adalah salah satu anggota DPR. Gue juga meluapkan kekecewaan gue terhadap pengendara mobil tersebut. Atas nama rakyat yang terzalimi!

Salahnya yang mengemudikan mobil adalah menaruh topi khas anggota dewan di dashboard mobil yang bisa terlihat dari luar. Untungnya mobil itu ga jadi sasaran amuk massa yang ada. Bisa habis dalam sekejap nantinya. 

Kita rombongan dari kampus melanjutkan perjalanan dengan sistem bergantian dengan yang lain. Rombongan kampus yang di depan maju perlahan, kita juga. Mereka berhenti, kita juga. Hal kaya gini yang gue baru tahu ketika ikut. Perlahan tapi pasti kita maju bersama-sama. Mahasiswa-mahasiswi yang ada layaknya rombongan semut yang sedang menginvasi suatu tempat untuk bersarang. Di sekitar pos polisi dekat kantor TVRI terparkir banyak motor. Kita belok lewat trotoar di sebelah kanan. Seperti yang tadi, perjalanan juga diselingi dengan istirahat. 

Terus merangkak maju kita bersama-sama. Spanduk acara Asian Games 2018 di sebelah kiri mulai meluntur dengan coretan ungkapan kekecewaan yang ada. Bergerak perlahan belok ke kiri dari fly over senayan. Sebentar ditahan. Sebentar lagi maju. Terus aja begitu sampai hampir menuju ke depan gedung. Sayangnya kita terhambat oleh sesuatu yang tidak kita ketahui sebelum benar-benar di depan gedung. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi terlihat digotong-gotong mundur dari depan.  Di sana juga kita dikasih odol buat berjaga-jaga kalau misalnya ada gas air mata ga terlalu perih. 

"Di depan sana udah rusuh" bisik-bisik mahasiswa yang ada. Semakin ke sini, semakin terlihat banyak mahasiswa dari berbagai kampus yang hadir. UI, UAI, UIN, UMB, dan lain-lain. Bisik gosip yang paling parah di keramaian itu adalah, bahwa sebuah kampus swasta bakal mengeluarkan(DO) mahasiswa/i-nya yang ketahuan melakukan aksi. Bisa jadi benar. Bisa jadi tidak. Mengingat kampus tersebut adalah salah satu kampus elit. 

Maju mundur tapi ga cantik kaya Syahrini kita lakukan berjamaah. Kita dari awal membentuk blokade yang semakin kuat di sana. Maju. Mundur sedikit. Maju lagi. Mundur lagi sedikit. Mundur perlahan. Ditarik biar tetap maju. Mundur terus perlahan tapi tetap aja masih ditarik ke depan. Terus begitu sampai gue mulai menyerah saat di samping fly over. 

Boom! Suara itu berasal dari arah depan gedung DPR RI. GAS AIR MATA! teriak orang-orang di atas fly over.

Panik! semuanya panik! Kita secepatnya menghindari dari hal tersebut. Huru-hara dari massa yang ada terjadi. Bruk. Bruk. Bruk. Derap langkah dipercepat. Lari pokoknya lari. Di saat itu, gue memutuskan memisahkan diri dari yang lain. Bukannya egois. Tapi perut yang keroncongan dan kaki yang sudah kelelahan ga bisa ditahan lagi. Daripada gue meneruskan tapi baku hantam sama petugas. Karena biasanya kalau gue udah lapar banget dan makanan itu masih ga bisa dijangkau, gue bisa paling galak di dunia mengalahkan sadisnya firaun zaman nabi Musa A.S. 

Sendiri terus gue berjalan arah ke stasiun Palmerah lagi. Gas air mata terasa ketika gue lagi lewat di depan kantor TVRI. Cuma gue belum terlalu mengerti kalau itu gas air mata. Sampai akhirnya gue bertanya


"Ini bang yang namanya gas air mata?" dengan lugunya gue bertanya karena belum pernah mengalaminya ke orang yang lewat
"iya"

Mau update ga ada sinyal lagi. Cuma ada sesekali. Gue update tentang dipukul mundurnya kita yang berunjuk rasa.


Perih asli. Ini udah agak jauh loh. Apalagi kalau kenanya dekat. Kerumunan massa juga melompati pagar masjid deretan kantor TVRI untuk menyelamatkan diri. Terus gue berjalan secepat yang gue bisa menuju stasiun. Di jalanan SMAN 24 itu, banyak orang yang berdiam mendominasi jalan. Ketika akhirnya gue tiba di TKP, gue mengistirahatkan diri sejenak dengan duduk bersandar dan meluruskan kaki. 

Glegek..glegek. Gue meminum air yang ada di dalam botol yang gue bawa di tas. Fokus gue tinggal balik ke stasiun Tanah Tinggi lagi buat transit menuju kampus dengan naik angkot. Sendirian kaya jomblo gue rasakan saat perjalanan pulang. Teman-teman gue yang lain pasti masih pada kesusahan nih. Gue doakan saja mereka bisa pulang dengan selamat.

Setibanya di stasiun Tanah Tinggi, gue menyempatkan diri buat mencuri sedikit waktu buat mengerjakan tugas Fotografi Jurnalisitik yang ada. Meski hasilnya sedikit sih. Earphone yang gue tadi pakai, gue taruh di kantung celana bagian belakang. Gue menebus uang jaminan kartu trip yang ada. Uang itu kemudian gue pakai buat jajan siomay dan ongkos naik angkot buat mengambil motor. Gue turun di Cikokol lalu jalan kaki sedikit ke kampus. Ya.. sekitar 1 KM lah. Cukup jauh untuk orang yang sudah lelah. 

Foto yang gue kerjakan buat tugas di stasiun Tanah Tinggi

Setibanya di rumah, gue bergegas membersihkan diri, makan, sholat, dan menyetrika baju yang menumpuk. 

Kabar dari teman-teman yang masih di sana jauh lebih horor. Ada yang terjebak ga bisa pulang. Ada yang update status WA suasana petugas kepoilisian menembakan gas air mata di stasiun Palmerah. Bahkan salah satu teman gue membuka kamar di hotel terdekat di Senayan buat mengungsikan diri bersama yang lain. Parah sih. Sampai KAPRODI gue di grup WA aja sampai khawatir banget kalau dibaca lewat pesan-pesannya.  

Gue membuat dokumentasi ga terlalu banyak. Termasuk di dalamnya adalah satu video yang gue update lewat instastory. Karena gue fokus pada acaranya. Bukan dokumentasinya. Walaupun ada penyesalan kecil kenapa ga fotonya   diperbanyak saat menulis cerita ini. Tapi gapapa. Yang penting gue sudah menjadi bagian dari sejarah perlawanan mahasiwa bangsa ini melawan tirani!

Hal yang terlupa adalah, earphone yang gue taruh di kantung celana bagian belakang itu hilang. Mana baru seumur jagung tuh earphone. Untungnya bukan HP atau jam gue yang ilang.

Diam tertindas atau bangkit melawan!

Hidup mahasiswa!

Hidup rakyat yang tertindas!

0 comments: